Sayembara Desain Pusat Cenderamata Pariwisata

Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi terpenting di Indonesia. Alasannya, pariwisata di Indonesia termasuk sektor yang tumbuh paling pesat. Menurut data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di bidang industri pariwisata selama lima tahun terakhir (2013-2017), rata-rata tumbuh sebesar 20 persen per tahun. Khusus tahun 2017 tercatat peningkatannya mencapai 31 persen mencapai angka 1,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Besarnya peningkatan di sektor pariwisata Indonesia membuat investor, baik asing maupun domestik, tertarik menanamkan modal pada dua sektor investasi, yakni sektor lifestyle dan pariwisata. Lifestyle menyangkut kuliner, fesyen, dan hiburan, sementara sektor pariwisata menyangkut tempat wisata dan fasilitas penunjangnya. Fasilitas itu bisa menyangkut akses, transportasi, penginapan, kuniner (tempat makan), dan pusat cendera mata.

Dengan potensi yang sebesar ini, sebaiknya konsep pengembangan pariwisata yang terencana harus dibuat dan direncanakan secara matang. Salah satunya, dengan memasukan unsur lokal, seperti Arsitektur Nusantara. Selain untuk menguatkan konsep pariwisata juga akan mengangkat identitas kearifan lokal daerah tersebut. Karena identitas inilah yang akan menarik orang untuk datang dan berkunjung.

Untuk itu, pemahaman akan Arsitektur Nusantara menjadi sesuatu hal yang penting disebarkan ke banyak orang, terutama generasi penerus bangsa yang berkecimpung di dunia arsitektur. Apalagi, pada Peraturan Presiden (Perpres) No. 6 tahun 2015, Badan Ekonomi Kreatif menetapkan sebagai nilai yang diciptakan dari sumberdaya intelektual yang mencakup 16 unsur penting.

Keenam belas unsur itu meliputi (1) Aplikasi dan Pengembangan Permainan, (2) Arsitektur, (3) Desain Interior, (4) Desain Komunikasi Visual, (5) Desain Produk, (6) Fesyen, (7) Film, Animasi dan Video, (8) Fotografi, (9) Kriya, (10) Kuliner, (11) Musik, (12) Penerbitan, (13) Periklanan, (14) Seni Pertunjukkan, (15) Seni Rupa, dan (16) Televisi dan Radio.

Terkait hal ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia membuat sebuah program terencana, yakni pengembangan 10 destinasi wisata prioritas atau yang dikenal dengan 10 destinasi Bali baru. Di 10 destinasi ini, pemerintah tak hanya mengembangkan potensi yang ada tetapi juga melengkapinya dengan fasilitas penunjang. Salah satunya dengan membuat Toko Cendera Mata yang memiliki ciri khas desain Arsitektur Nusantara.

Cendera mata adalah sesuatu yang bisa dibawa oleh seorang wisatawan ke rumahnya sebagai benda kenang-kenangan. Dalam bahasa Indonesia, istilah cendera mata ini disinonimkan dengan nama oleh-oleh, suvenir, tanda mata, atau kenang-kenangan. Jadi toko cendera mata adalah toko yang menjual benda oleh-oleh dari daerah asal untuk dijadikan kenang-kenangan atau dibagikan sebagai kenang-kenangan bagi orang lain.

Barang yang dijual di toko cendera mata bisa berupa barang fashion (pakaian, celana, topi, sendal/sepatu, atau aksesori pakaian), peralatan rumah tangga (cangkir, mangkok, asbak, sendok, jam), atau aksesori interior (asbak, pajangan, pigura, patung). Biasanya, benda-benda ini terdapat tulisan identitas yang menandai asalnya.

Dengan demikian, di dalam usaha mengembangkan 10 destinasi wisata prioritas Indonesia, ada keterlibatan dan peran serta masyarakat yang terkait dengan masalah peningkatan ekonomi, memperkenalkan industri kreatif masyarakay sekitar, serta memperkenalkan adat istiadat serta Arsitektur Nusantaranya. Keterlibatan ini juga akan membuat masyarakat merasa memiliki dan mencintai.